Aku Update Maka Aku Ada

update untuk Eksistensi

cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada.

Rene Descartes seorang filsuf berkebangsaan Prancis pernah mengatakan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan diri sendiri dan keberadaan itu menjadi nyata ketika kita mampu berpikir.

 

Cogito ergo sum “Aku berpikir maka aku ada”, Sebuah perkataan yang sederhana tetapi memiliki makna yang dalam. Dengan berpikir manusia bisa menunjukan eksistensinya untuk diakui oleh orang-orang sekelilingnya.

 

Pernah suatu ketika saya disindir oleh dosen ketika presentasi di depan kelas karena tidak berpendapat apapun, bahkan dari awal sampai akhir teman saya yang memaparkan materi dan menjawab pertanyaan dari kelompok yang lain. Masih terngiang di kepala saya “ Hebat ya kamu dik (panggilan teman saya), meskipun seorang diri tapi mampu menghidupkan suasana diskusi kali ini”. Saya merasa meskipun ada dan duduk dengan memasang muka manis di depan teman-teman, keberadaan saya tidak diakui sama sekali ketika tidak menyumbang pemikiran apapun.

 

Akhirnya saya menyadari bahwa untuk dianggap eksis itu harus berpikir dan melakukan sesuatu.

 

Dengan perkembangan zaman yang pesat dan arus tekhnologi yang tidak bisa dibendung bagaikan tsunami menjadikan kehidupan sosial ini menjadi serba instan. Manusia sekarang ialah manusia yang dikit-dikit buka ponsel dan updete status untuk menunjukan keberadaannya. Karenanya jika dulu Rene Descartes menunjukan eksistensinya dengan berpikir maka aku ada, sekarang adalah dengan update status maka aku ada sebagai tanda eksistensi.

 

Masyarakat modern bukan lagi hidup sekedar butuh namun juga hidup untuk menjadi tren agar mereka diakui keberadaannya. Hasrat makan, belanja, bermain sekarang bukanlah suatu kebutuhan dan fungsi semata melainkan untuk menjadi bahan update-an di status di media sosial dan itu menjadikan gaya hidup yang cenderung konsumtif dan terkesan memaksakan.

 

Dengan tren gaya hidup yang ditentukan media sosial menyebabkan sikap konsumtif yang berlebihan ini menjadikan  semua ingin menunjukan bahwa mereka benar benar di akui keberadaannya. Tak jarang orang yang ekonominya rendah memaksakan diri untuk mengikuti tren yang nyatanya jauh dari kemampuannya. Begitu juga orang yang ekonominya tinggi secara tidak langsung dan tidak sadar telah memanas-manasi kehidupan orang yang berada di bawahnya.

 

Parahnya lagi dari kenyataan “aku update status maka aku ada” ketika ada orang yang nge-like atau komentar baik terhadap postingan kita memberikan kepuasan tersendiri dan seakan-akan kita memang “ada” di bumi ini, namun sebaliknya ketika tidak ada yang nge-like dan ada yang berkomentar buruk kita akan merasa minder dan tidak eksis.

 

Dengan sikap konsumtif yang berlebih menyebabkan manusia abad ini melupakan hal-hal yang bersifat esensial. Sebagai contoh ketika lapar bukan lagi makanan yang sekedar memenuhi hasrat lapar itu sendiri yang dicari tetapi juga mencari makanan yang setidaknya enak untuk di foto dan dijadikan update-an. Begitupun dengan pakaian, demikian juga dengan tempat liburan yang esensinya hanya sebatas untuk melepaskan penat saja.

 

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan update di media sosial, hanya saja menjadi salah ketika update  harus sesuai dengan tren dan gaya hidup hanya demi diakui keberadaannya.

 

Oleh karenanya, meskipun standar eksistensi sekarang telah berubah dari “aku berpikir maka aku ada” menjadi “aku update maka aku ada” jangan sampai menjerumuskan diri kita kepada ideologi konsumerimse demi hanya ingin dianggap ada. Melainkan juga harus dibarengi dengan kesadaran terhadap hal-hal yang bersifat esensial untuk kelangsungan eksistensi kita yang sebenarnya di kehidupan ini.