Basa-basi itu Mengasyikan Bila Tidak di Awali dengan Ditanya “Kapan Nikah?”

ditanya kapan nikah? rebahandulu

Basa-basi merupakan hal yang lumrah dalam interaksi manusia sebagai makhluk sosial. Apalagi ketika berjumpa kembali dengan teman lama, atau saat ngobrol dengan lawan bicara ketika kehabisan topik pembicaraan. Tentu basa-basi sangatlah membantu dalam kondisi tersebut.

 

Dengan adanya basa-basi, suasana akan menjadi hidup dan obrolan berkembang dari satu topik ke topik yang lain. Hal tersebut menunjukan basa-basi sangat bermakna dan bermanfaat ketimbang diam-diaman, buka instagram, scroll atas-scroll atas, back…. Buka lagi instagram scroll atas, scroll atas, back. Kan kaya orang bego….

 

Basa-basi juga mampu mejadikan dua orang yang tadinya tidak saling kenal bisa menjadi akrab, TTM-an, care, saling perhatian, dan pada akhirnya nikah di undang ke pesta pernikahannya. Klasik….

 

Jangan lupa bahwa seorang filsuf besar bernama Socrates, menguji suatu kebenarannya itu dengan cara berdialog, mengkritisi dan mempertanyakan apa yang dikatakan lawan bicaranya. Oleh karena itu, cobalah paksakan percaya bahwa dialog itu terjadi karena berawal dari basa-basinya Socrates pada lawan bicaranya tersebut. Maksa ya….

 

Hidup memang asyik dengan adanya basa-basi. Tapi paksakanlah juga percaya bahwa tidak setiap basa-basi dapat menghidupkan suasana. Tidak setiap basa-basi dapat menjadikan akrab. Dan juga tidak setiap basa-basi mampu mengembangkan topik pembicaraan. Yang terjadi malah suasana sunyi dan mencekam bagaikan duduk di angkot yang muatannya penuh dan kita dipaksa duduk di kursi dekat pintu dengan badan menghadap penumpang yang lain. Menyeramkan….

 

Salah satu basa-basi yang berbahaya dengan level bencana nasional yakni ketika hendak ngobrol dengan teman lama kita kemudian diawali dengan basa-basi “kapan nikah ?”.  Maka percayalah, dengan seketika suasana yang diharapkan asyik akan menjadi tegang. Apalagi kita tahu bahwa teman kita itu usianya sudah menginjak kepala tiga. Di tambah lagi teman kita satu-satunya teman seangkatan yang belum MENIKAH. Boro-boro punya MOMONGAN.

 

Pernah suatu ketika saya di undang ke acara pernikahan teman seangkatan. Kebetulan istri saya tidak bisa mendampingi. Maka berundinglah saya dengan teman yang lainnya untuk berangkat besama ke pesta pernikahan tersebut, yang kebetulan juga istri teman saya itu berhalangan untuk bisa hadir.

 

Ceritanya kami berangkat bersama menuju pesta pernikahan. Sesampainya di sana, kami bertemu dengan teman lama yang memang hampir lima tahunan belum pernah bertemu sejak lulus kuliah. Meskipun terkadang berkomunikasi di media sosial, oleh karena itulah saya mengetahui bahwa teman lama saya itu belum menikah sampai saat ini.

 

Terlintas di pikiran saya untuk bertanya “kapan nyusul ke pelaminan?” sebagai basa-basi keakraban. Namun setelah di pikir-pikir lagi, saya takut menyinggung perasaannya, mengingat usianya yang sudah menginjak kepala tiga dan satu-satunya teman seangkatan yang belum pernah menikah. Maka dari itu saya urungkan niatan tersebut dan bergegas memikirkan hal lain yang elok rasanya untuk dipertanyakan pada beliau.

 

Belum lima detik pertanyaan itu hilang di pikiran, seperti berpindah dari pikiran saya pada pikiran teman saya yang menjadi pendamping kondangan kali ini, tanpa sungkan tiba-tiba bertanya dan membuka sesi basa-basi pada teman lama kami dengan pertanyaan “Lu bro kapan mau nikah? Gak bosen ngebujang terus?”. Dan… suasana yang dibayangkan asyik pun karena lama tak berjumpa malah mencekam dan agak sedikit tegang.

 

Pertemanan kami yang dulunya akrab seakan-akan menjadi canggung. Terlihat ekpresi muram pada wajahnya yang sepertinya juga kebingungan untuk menjawab. Mungkin karena memang selama ini dia berusaha dan berdoa tetapi apa daya bila Tuhan belum mengizinkan. Akhirnya dia hanya tersenyum paksa menanggapinya.

 

Okelah mungkin niat teman saya baik dengan maksud basa-basi bernuansa candaan sindiran itu untuk menghangatkan suasan pertemuan kami yang pertama kalinya setelah lima tahun tidak pernah bertemu. Hanya saja momen dan kondisinya kurang tepat dan sama sekali tidak tepat.

 

Bayangkan saja usia kepala tiga itu paling rentan untuk ditanya kapan nikah. Apalagi bila sudah mapan secara finansial. Jangankan oleh kami yang hanya sekedar teman kuliahnya. Di lingkungan keluarganya pun dia pasti sering diserang membabi-buta dengan pertanyaan kapan nikah.

 

Tidak tepatnya lagi pertanyaan itu didapat saat menghadiri acara pernikahan yang harusnya beliau datang hanya untuk sekedar memenuhi undangan saja, tanpa harus kebingungan menjawab pertanyaan semacam “kapan nikah?” yang notabene memang menjadi mistery seperti halnya kematian. Apa kita bisa jawab jika di tanya “kapan mati?” bingung juga kan dan agak sedikit tegang.

 

Tapi untunglah dia berusaha tenang dan ngemaklum karena pertemanan kami. Meskipun mungkin suasana hatinya menjadi hancur dan moodnya telah hilang. Coba saja bila pertanyaan itu di tujukan pada orang yang sensitif dan mudah marah lalu tiba-tiba berubah menjadi super seiya di acara pesta pernikahan. Kan gak lucu bor….

 

Karenanya basa-basi lah sebijak mungkin dengan tidak bertanya hal-hal yang sensitif dan pribadi seperti bertanya “kapan nikah?” pada orang yang seharusnya sudah pantas dan mampu untuk menikah.  Ketahuilah bahwa dia juga sebenarnya sedang berusaha dan berdoa kepada yang maha kuasa untuk ditunjukan solusinya. Bahkan kalau bisa seharusnya kita ikut mendoakannya juga dengan atau tanpa sepengetahuannya.

 

Seperti bila kasusnya bertemu dengan teman yang belum menikah di acara pernikahan. Maka alangkah baiknya basa-basi dengan cara mendoakan “semoga cepat di berikan jodoh dan nyusul ke pelaminan”  bukan basa basi dengan pertanyaan “Kapan nyusul ke pelaminan?”

 

Kendati demikian, meski basa-basi paling mudah diawali dengan kalimat bertanya, bukan kah masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang bergizi selain pertanyaan ampas layaknya “kapan nikah?”

Panjang umur basa-basi!!!

Be the first to comment

Tinggalkan Jejak