Dering Telepon

dering telepon

CERPEN – Dengan setengah rasa malas, ia membuka pintu kamar, lalu menuruni puluhan anak tangga dan berdiri selama beberapa saat di hadapan telepon ruang utama rumahnya yang berdering. Cuaca sedang buruk. Hujan turun begitu deras dan petir menggelegar mirip hentakan suara di meja-meja billyard. Muka jendela berkabut. Dingin menancap ke seluruh tubuhnya. Akan tetapi, ia harus mengangkat panggilan telepon itu.

 

Namun hanya berjarak beberapa detik setelah ia mengangkat gagang telepon, panggilan dari telepon itu langsung terputus. Kejadian menyebalkan semacam itu sudah berlangsung puluhan kali semenjak ia bangun tidur. Ia biasa bangun jam delapan pagi, dan hari ini harus terbangun satu jam lebih awal dari biasanya karena terganggu oleh suara nyaring sebuah telepon.

 

Bunyi dering telepon barusan seperti dengung isi kepala. Cuaca buruk di luar sana telah berhasil membuatnya demam dan pening. Di tambah pikirannya memiliki rasa penasaran tentang siapa orang kurang kerjaan yang mempermainkan teleponnya hari ini. Andaikan saja dirinya masih seorang perempuan muda cantik berambut pirang bulu jagung, berpadu dengan bola mata berwarna biru mirip permukaan danau yang terkena pantulan cahaya di langit, tentu bukan hal aneh bila di rumahnya akan ada banyak lelaki yang meneleponinya seperti dulu. Bahkan, hampir setiap hari mereka mengganggu teleponnya seperti halnya sekarang.

 

“Sierra, ada telepon dari siapa?” tanya orang tuanya empat puluh tahun lalu.

 

Ia menggelengkan kepala. “Entahlah.” katanya, sambil memandang penuh penasaran pada muka telepon berwarna hitam dipenuhi angka yang melingkar.

 

“Pasti dari seorang lelaki,” tegas orang tuanya. “Sudah biasa, kalau ada laki-laki yang secara diam-diam mencintaimu, biasanya ia akan menelepon lalu mengurungkan niatnya sebab merasa gugup menahan malu untuk berbicara denganmu.” lanjut orang tuanya sambil tertawa.

 

Kini ia pun tertawa sendiri bila mengingat kembali kenangan itu: sebuah masa lalu yang terkadang ingin dilupakan olehnya. “Apakah yang mempermainkan telepon hari ini pun ulah dari salah satu lelaki itu?” gumamnya. Tapi dugaan itu lantas ia buang jauh-jauh. Tak mungkin lelaki itu masih mencintainya sampai sekarang yang sudah berumur enam puluh tahun. Kini wajahnya dijalari lapisan kulit keriput dan rambutnya berubah keperak-perakan. Sementara ketika umurnya masih dua puluh lima, ia memilih menikah bersama seorang lelaki bernama Kenneth. Dan setahun kemudian dikaruniai sepasang bayi kembar perempuan.

 

Meskipun sepuluh tahun yang lalu suaminya itu telah meninggalkannya terlebih dulu―ia menghembuskan napas terakhir setelah ditembak oleh sekawanan perampok kulit hitam ketika sedang menyaksikan acara Rochester St. Patrick’s Day Parade―namun perasaan kepada suaminya akan tetap sama seperti dulu. Sementara kedua anak perempuannya telah menikah dan memilih berpisah rumah di kota yang berbeda. Jadi, di rumah besar berlantai dua itu, ia hanya hidup seorang diri melawan rasa kesepian.

 

Tiba-tiba teleponnya kembali berdering. Seperti tak ingin kehilangan sesuatu yang berharga, ia langsung mengangkat gagang telepon itu. “Hallo… apakah ini dengan Hotel Hyatt Regency Rochester?” tanya seorang perempuan di telepon.

 

“Haaah, tentu saja bukan.”

 

“Jangan bercanda! Masih adakah kamar kosong untuk malam sekarang? Tolong siapkan sebuah kamar untuk kami!” bentak perempuan itu karena merasa dibohongi. “Tolong juga nanti siapkan dua porsi Hickory BBQ Beef untuk makan malam!”

 

“Maap, Anda salah sambung. Sejak kapan rumahku berubah menjadi hotel!” ia menimpali dengan nada jengkel dan langsung menutup pembicaraan.

 

Tak lama setelah teleponnya ia tutup, kemudian berdering lagi. “Sudah saya katakan, ini bukan Hotel Hyatt Regency Rochester!” katanya berteriak.

 

“Saya tak membutuhkan hotel. Apartemen saya sudah cukup luas,” kini terdengar seorang laki-laki dengan sebuah karakter suara parau; mirip kesiur angin musim kemarau. “Apakah saya bisa memesan kue ulang tahun untuk anakku yang akan beruang tahun kesepuluh minggu depan?” lanjut lelaki itu.

 

“Anda siapa? Demi Tuhan, saya tidak peduli masalah anak bodoh mana yang akan berulang tahun minggu depan!”

 

“Kenapa tiba-tiba menghina anak saya? Saya tadi membaca iklan di sebuah surat kabar, katanya nomor telepon ini menyediakan jasa pembuatan aneka kue dan makanan ringan!”

 

“Bukan! Bye….” katanya sambil membanting gagang telepon.

 

Sungguh, ada sesuatu yang aneh pada teleponnya hari ini. Dari mulai Missed Call sampai salah sambung. Siapa orang kurang kerjaan yang memasang iklan di sebuah surat kabar dengan seenaknya sendiri menggunakan nomor teleponnya tanpa izin? Ia membatin.

 

Lagi-lagi teleponnya kembali berdering. Ia tak peduli. Ia tak akan mengangkat panggilan telepon memuakkan itu lagi. Ia membayangkan, di suatu tempat pasti orang kurang kerjaan itu tengah tertawa terbahak-bahak mengingat alangkah terganggunya ia hari ini. Ia pun kembali menuju kamar dan membaringkan tubuhnya yang lelah. Namun demam dan pening tak kunjung pergi dari kepala dan tubuhnya. Sudah hampir setengah jam telepon itu berdering, menciptakan sebuah suara yang bisa membuat kepalanya bertambah pening. Bahkan, bisa gila mendadak.

 

“Sialan! Tak tahukah ia bila sekarang aku membutuhkan waktu untuk istirahat!” ia berteriak dan bangkit dari tempat tidur. Membuka pintu kamar dan menutupnya kembali dengan tenaga lebih kuat dari biasanya secara serampangan. Ia lalu mengangkat gagang telepon itu. “Jangan mengganggu waktu istirahat orang lain!” ia menjerit.

 

“Apa yang Anda bicarakan. Apa benar ini kediamannya Nyonya Kenneth Beckman?” jawab lawan bicaranya di telepon.

 

“Ya, betul. Saya Sierra Marie, istrinya mendiang Tuan Kenneth Beckman. Siapa Anda? Dari tadi hanya mengganggu saja!”

 

“Kami dari kepolisian. Sejam yang lalu mobil anak Anda menabrak tiang lampu jalanan di depan Latino Minimarket. Sekarang kondisinya sedang kritis dan sudah berada di rumah sakit Medical Uni kota Princeton.”

 

“Apa! Kenapa kalian baru memberi kabar sekarang!” katanya tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

 

“Jangan salahkan kami. Sebenarnya kami sudah hampir setengah jam mencoba menelepon, namun baru sekarang Anda jawab!”

 

***

 

Sebenarnya, ia tak pernah menyetujui kedua anak perempuannya memilih berpisah rumah di luar kota, meskipun ia tahu bila mereka melakukannya demi mengikuti kehidupan suami masing-masing. Ah, dari dulu ia tak pernah memimpikan masa tuanya akan dihabiskan menjalani hidup dalam kesendirian; seharian hanya menonton siaran televisi atau menanam pohon dan berkebun di halaman rumah seperti yang dilakukan perempuan tua lainnya.

 

“Tenang saja, kami berniat memperkerjakan seseorang yang akan merawatmu di rumah ini.” bujuk kedua anaknya sebelum pindah. “Ya, sekalian untuk menemanimu.”

 

“Tak perlu. Biayanya cukup mahal. Aku pun masih sanggup mengurus diri sendiri!” katanya menolak dengan nada sinis.

 

Sungguh, sesulit apapun pilihannya, belum pernah sekalipun ia menitipkan kedua anak perempuannya ketika masih kecil kepada baby sitter. Akan tetapi setelah usia mereka tumbuh dewasa, ia malah mendapatkan balasan dari mereka berupa rasa sakit di dada―membiarkannya hidup sendiri melawan rasa kesepian. Ia tak ingin dirawat oleh siapapun kecuali oleh anaknya seperti ia pernah merawat masa kecil mereka. Baginya, hidup dalam naungan atap yang sama akan jauh lebih baik daripada harus hidup secara terpisah.

 

“Kalian memang keas kepala. Sudah besar memilih meninggalkan orang tua sendiri!”

 

“Kami seperti ini hasil didikanmu. Sebenarnya kau yang dari dulu keras kepala. Sekarang kami sudah besar dan tak ingin hidup diatur olehmu lagi!” bentak anaknya.

 

Setelah kedua anaknya berpisah rumah, tak pernah sekalipun mereka datang menjenguknya. Dan ia berpikir, pasti yang mempermainkan teleponnya pasti ulah dari mereka, mengingat sudah lama mereka tak pernah bercakap atau bertukar kabar. Tapi dugaan itu kembali ia buang jauh-jauh setelah mendengar kabar bahwa anaknya mengalami kecelakaan.

 

Ia baru pulang ke rumahnya malam hari setelah menjenguk anaknya kecelakaan tadi pagi. Perjalanan bolak-balik Rochester-Princeton cukup menguras tenaga. Lalu membaringkan tubuh tuanya di atas sofa ruang utama. Seketika kantuk datang dan hinggap di pelupuk mata. Ketika kantuk akan berpindah menjadi lelap, tiba-tiba teleponnya berdering dan membuatnya terkejut. Ia bangkit dengan perasaan kesal dan berniat akan memutuskan kabel listrik telepon itu.

 

Sebelum ia memutuskan kabel listriknya, ia mengangkat gagang telepon itu terlebih dahulu. Dan kali ini, sebuah suara berat seorang lelaki memanggil namanya; suara seorang lelaki yang begitu karib dan tak asing lagi di telinganya.

 

“Hallo… Sierra?”

 

“Berisik! Tak adakah pekerjaan lain selain terus-menerus menggangguku? Mulai sekarang, jangan pernah mengganggu kehidupanku lagi!” dengan setengah membanting ia pun meletakan kembali gagang telepon itu ke tempatnya semula dan mencabut kabel listrik.

 

***

 

Tak hanya mengingat ucapan orang tuanya empat puluh tahun lalu mengenai seorang lelaki yang sering meneror teleponnya dulu, ketika mengingat kembali kejadian kemarin pun, ia selalu tersenyum sendiri. “Apakah yang meneror teleponku kemarin pun ulah dari salah satu lelaki itu? Lelaki yang sama seperti empat puluh tahun lalu?” gumamnya.

 

Namun tentu saja ia tahu bila yang meneror teleponnya kemarin bukan ulah lelaki itu, mengingat beberapa hari yang lalu ia pernah membuat berbagai macam iklan palsu di beberapa surat kabar menggunakan nomor teleponnya sendiri, sebagai penghibur dirinya yang hidup terpuruk dalam kesendirian. Atau sekadar untuk bisa mengulangi masa mudanya dulu yang pernah menerima banyak panggilan telepon. Ia sangat merindukan kejadian menyenangkan semacam itu. Ada semacam kebanggaan tersendiri baginya. Dan sesungguhnya, ia sudah tak sanggup bila masa tuanya akan dihabiskan dengan melawan rasa kesepian.

 

Ah, ingin sekali ia kembali mengulangi kenangan itu: sebuah masa lalu yang terkadang ingin dilupakan olehnya. Akan tetapi, bukankah masa lalu pun merupakan bagian sejarah berharga yang dimiliki oleh kehidupan manusia?

Be the first to comment

Tinggalkan Jejak