FIQH: PERCERAIAN, SAKINAH, MAWADAH, DAN RAHMAH

Ketika fiqh membicarakan tentang perceraian (dalam literaturnya), yang menjadi pembahasannya adalah dimensi-dimensi prosedural, atau lebih kearah implikasi hukum yang ditimbulkannya. Dalam sudut pandang fiqh, perceraian atau talaq adalah hak laki-laki. Seperti dijelaskan al Quran dalam surat al-Thalaq [65]: 1, dari ayat ini jelaslah bahwa dalam menjatuhkan talaq haruslah melihat dulu keadaan istri yang akan di thalaq, dan aspek moral sangat ditekankan daripada aspek fiqh yang berada pada wilayah legal-formal. Dalam malasah perceraian, fiqh hampir tidak menjelaskan tentang mediasi demi terhindarnya perceraian.

Pada perceraian akan tampak bahwa karakteristik fiqh lebih menekankan pada aspek formal-objektif, sedangkan mediasi dan keterpaksaan dalam perceraian lebih kearah subjektif. Jika suami memiliki haq talaq untuk mencaraikan istri, maka istri memiliki khulu’ (melepas), yang berarti jika istri sudah tidak bisa melanjutkan pernikahan sedangkan suami tidak mau mentalaqnya, maka istri bisa meminta pengadilan agar suami menceraikannya. Sama dengan talaq, khulu’ adalah mutlak dan tidak ada siapapun yang bisa menghalangi istri dalam menggunakannya. Kesetaraan dalam perceraian bisa dilihat dari sini, bahwa dalam memutuskan perkawinan baik suami ataupun istri memiliki hak masing masing yang tidak bisa dicegah oleh siapapun untuk mempergunakannya.

 

Kesetaraan dalam pernikahan hanya akan menjadi konsep yang terus berkembang seiring dengan konteks social-budaya. Adanya konsep kesetaraan seperti yang dibahas dalam artikel sebelumnya bukan berarti bahwa haruslah setara dan seimbang, tetapi sebagai cabang dari konsep adil. Jika adil diartikan menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka kesetaraan dalam pernikahan akan terjadi jika istri bisa menempatkan dirinya dalam posisi sebagai istri dan suami menempatkan dirinya sebagai suami.

Kedudukan dalam pernikahan, baik itu peran dalam statusnya sebagai istri ataupun suami, semuanya sudah diatur dalam al Quran dan Sunah. Tinggal bagaimana keduanya menempatkan diri dalam berkeluarga agar bisa mencapai kebahagian. Karena munculnya konsep tentang kesetaraan disebabkan adanya permasalahan dalam berkeluarga yang jauh dari kata bahagia, yang dalam Quran disebut sebagai sakinah, mawadah wa rahmah.

Islam menginginkan pasangan suami istri langgeng, terjadi keharmonisan, dan keduanya saling menyayangi dan mengasihi sehingga muncul kedamaian dalam hati masing-masing. Rumah tangga inilah yang diinginkan Islam, yaitu keluarga sakinah (Q.S. [30]: 21). Rumah tangga yang ideal dalam islam memiliki tiga konsep, sakinah, mawadah, dan rahmat.

 

Sakinah, yang menurut ulama tafsir adalah suasana damai dalam keluarga, masing masing pihak menjalankan perintah Allah dengan tekun, saling menghormati kemudian saling toleransi. Sehingga, kejelekan yang ada dalam diri suami ataupun sebaliknya dengan toleransi ini hanya akan menjadi pemanis dalam berkeluarga. Dari suasana sakinah itu, karena saling menerima dan menutupi kekurangan masing masing, kemuadian munculah kasih dan sayang (mawadah). Yang pada akhirnya Allah memberikan rahmat berupa keturunan. Motif ideal masyarakat yang menjadikan sakinah mawadah wa rahmah sebagai yang seharusnya dan Islam yang memandang sebagai keharusan menjadikan sakinah mawadah warahmah ini lebih ditekankan dalam pernikahan. Sakinah mawadah warahmah dijadikan sebagai metode dalam menyeleasaikan masalah kehidupan.

Adil dalam pernikahan tidak bisa dipungkiri pastilah akan dikaitkan dengan penambahan istri, dengan syarat harus adil tersebut. Adil di sini ialah pada tahap untuk membentuk keharmonisan. Bagaimana adil itu sendiri dalam pernikahan? Jika setara menuntut untuk sama rata maka adil menuntut kesesuaian antara hak dan kewajiban. Hak ada untuk dilindungi oleh kewajiban, dengan kata lain kewajiban seorang suami ataupun istri adalah untuk melindungi hak pasangannya masing-masing.

 

Jika suami memiliki kewjiban untuk memberi nafkah maka ada hak istri untuk diberi nafkah. Jika istri berkewajiban memberikan pelayanan seksual, maka disitu ada hak suami untuk diberi pelayanan. Adil dalam pernikahan sendiri adalalh sebagai hasil dari beberapa kewajiban untuk melindungi hak. Hak dan kewajiban ini jiga berkaitan dengan peran dan status dalam tatanan suami-istri.

Telah disebutkan bahwa setara adalah uapaya untuk menuntut sama dan rata sedangkan adil adalah upaya perlindungan terhadap hak oleh kewajiban. Dalam pernikahan, selain menuntut untuk setara juga diharuskan adanya keadilan. Kurangnya pemahaman mengenai ini membuat lupa akan cita-cita ideal dalam pernikahan yaitu sakinah mawadah wa rahmah. Masalah mengenai bagaimana adil dan bagaimana harus setara bukan dibahas ketika dilanda masalah dalam pernikahan, tetapi harus dipelajari sebelum pernikahan.

Antara adil dan setara bukan ada sebagai pilihan tetapi sebagai dua cabang yang menuju akar yang sama. Dr. Roni Nugraha seorang dosen Tafsir di STAI Persis Bandung menyinggung mengenai pernikahan ini, terbebas dari apakah harus adil atau setara, beliau mengatakan bahwa pernikahan itu ibarat bahtera yang berada ditengah Samudra yang luas. Adakalanya terjangan ombat menghempas berniat membalikan kapal memberikan kekacauan dan kekhawatiran, adakalanya juga dimana angin dan ombak berhenti meyebankan kebosanan dan kelaparan, adakalanya berpapasan dengan bahtera yang lain yang terlihat indah dan ingin berpindah. Pernikahan itu bukan ajang untuk memperbanyak keturunan meskipun itu sebagai “rahmah” tetapi merupakan ujian dimana masalah sepele akan terlihat berat, godaan demi godaan terlihat sangat menggiurkan dan tepian pantai terlihat sangat indah untuk dilabuhi sementara.

 

Beliau menekankan bahwa dalam pernikahan pastilah akan ada masalah yang terjadi, konsep seperti kesetaraan dan keadilan bukan merupakan yang inti dalam pernikahan. Pernikahan adalah ketika keharmonisan dan ketaan terjadi maka bahtera akan diliputi dengan “sakinah dan Mawadah”. Ketika dua han tersebut ada, maka adil akan muncul dalam bentuk “kanyaah” yang tidak akan terkelupas, luntur dan hancur dan selalu terjaga. Jadi, muncul pertanyaan bagaimana keharmonisan terjadi? Yaitu dengan ketaatan. Taat adalah melakukan kewajiban. Kewajiban adalah upaya melindungi hak.

 

Ada keterkaitan yang jelas antara setara dan adil disini, disamping peran dan status sebagai penentu kewajiban dan hak. Jika pernikahan dianggap sebagai sesuatu yang sacral, maka setiap tingkah laku, pekerjaan, perbuatan yang melibatkan pernikahan haruslah disertai dengan maksud melegitimasi kesakralan terasebut bukan justru malah memundurkan nilai kesakralannya.

 

Sumber: al Quran. Ismatulloh, A.M., “Konsep Sakinah, Mawaddah Dan Rahmah Dalam Al-Qur’an (Prespektif Penafsiran Kitab Al-Qur’an Dan Tafsirnya”, Mazahib, Vol. Xiv, No. 1 (Juni 2015). Mustari, Abdillah. “Pernikahan Islam Berkesetaraan Gender”, Sipakalebbi’, Vol.1: No.1 (Mei, 2013).

1 Trackback / Pingback

  1. MAKNA PERNIKAHAN - REBAHANDULU.COM

Komentar ditutup.