Hidup Monoton ala-ala Sisyphus

hidup monoton ala Sisyphus

“Senin sampai sabtu kerja, minggunya ngopi. Besoknya senin lagi, kerja lagi sampai sabtu. Eh besoknya udah minggu lagi, ngopi lagi. Begitu seterusnya… Monoton adalah koentji”

 

Dalam mitologi Yunani, di kisahkan pada zaman itu ada raja yang bernama Sisyphus anak dewa angin, raja Korintus. Ia terkenal sebagai raja yang zalim dan selalu menyalahgunakan kekuasaan. Menipu para Dewa dan yang lebih parah membocorkan rahasia Dewa Zeus.

 

Karena tingkahnya yang ngeyel, maka di masukanlah Sisyphus kedalam neraka oleh para Dewa. Namun bukannya jera, di neraka pun sempat-sempatnya ia menipu para Dewa dengan memohon untuk dikembalikan lagi ke dunia sebentar dan kemudian kembali lagi ke neraka.

 

Ketika ia kembali ke dunia, dirinya merasa terpesona dengan suasana dan keindahan dunia. Menikmati air dan matahari, begitupun bebatuan dan seluruh tumbuh-tumbuhannya. Alhasil,  Sisyphus tidak mau lagi untuk di kembalikan ke dalam Neraka.  Jelas hal tersebut membuat para Dewa marah karena merasa di tipu lagi dan permainkan.

 

Tak ingin tertipu kesekian kalinya, para Dewa pun menjatuhkan hukuman kepadanya. Hukuman yang dikerjakan secara terus-menerus dalam hidupnya di dunia namun tidak menghasilkan apa-apa. Yakni Sisyphus dihukum untuk mendorong sebuah batu bulat yang besar ke atas bukit. Dimana ketika sampai di atas bukit, batu itu akan menggelinding lagi kebawah dan Sisyphus harus mendorongnya kembali ke atas bukit. Begutu seterusnya….

 

Apakah ada hal yang aneh dalam hukuman Sisyphus atau justru kita merasa tidak asing dengan hukuman yang sedang dialami Sisyphus?

 

Sadar atau tidak, monotonnya hidup Sisyphus kadang sama dengan apa yang kita alami dalam kehidupan ini.  Seperti Sisyphus yang kerjaannya bolak balik mendorong batu ke atas bukit. Kerjaan kita pun gitu-gitu aja, alias monoton seakan-akan mewarisi apa yang menjadi hukuman bagi Sisyphus. Menyebalkan kah?

 

Cobalah bagaimana kita melihat para pekerja, kehidupannya hanya untuk bekerja. Senin, selasa sampai sabtu berangkat kerja tidak lupa mandi, menggosok gigi dan sarapan yang lagi-lagi diulangi setiap harinya. Kemudian pada hari minggu berlibur bersama teman, keluarga, pacar ataupun hanya numpang duduk di sebuah warung kopi. Dan berlanjut sampai bulan dan tahun-tahun berikutnya.

 

Begitupun bagi seorang pelajar yang kehidupan sehari-harinya tidak jauh dari sekolahan dan perkuliahan. Bukan hanya pekerja dan pelajar, bahkan semua makhluk hidup pun mengalami apa yang menjadi hukuman bagi Sysiphus, yakni menjalani hidup yang gitu-gitu aja alias monoton.

 

Bolehlah di sangkal, kita tak akan menjalani hidup yang sia-sia seperti apa yang di alami Sisyphus bila mana kita mempunyai tujuan. Coba pikirkan baik-baik hukuman yang di kerjakan Sisypus, bukankah ia juga mempunyai tujuan untuk mendorong batu besarnya ke atas bukit? Namun apa yang terjadi? Setelah tujuannya tercapai, batu itu akan menggelinding lagi ke bawah dan ia harus mendorongnya kembali ke atas. Begitu pun dengan tujuan kita. Setelah tujuan tercapai, kita tidak akan berhenti dan harus menggapai tujuan berikutnya.

 

Mencapai tujuan bukanlah akhir, kenikmatannya pun sesaat. Setelah itu kita kembali di hadapkan pada masalah-masalah selanjutnya. Kemudian memikirkan tujuan untuk mencari solusi masalahnya. Begitulah hidup, hanya rentetan masalah ke masalah juga tujuan ke tujuan. Karenya Albert camus seorang  filsuf eksistensial mengatakan bahwa hidup ini absurd.

 

Apakah kehidupan monoton ini tidak baik?

 

Banyak yang berpendapat bahwa hukuman bagi Sisyphus merupakan kutukan karena dirinya mengerjakan hal yang sia-sia dan tidak menghasilkan apa-apa. Sebuah pekerjaan yang menyiksa dan mengerikan. Namun tidak bagi Albert camus, menurutnya Sisyphus tidak merasa terkutuk dan tersiksa dengan apa yang ia kerjakan. Karena Albert membayangkan ketika Sisyphus mendorong batu besar ke atas bukit ia tersenyum bahagia dan tak pernah sedikit pun bersedih ataupun mengeluh.

 

Monotonnya hidup yang katanya menyiksa dan melahirkan hal yang sia-sia bisa disangkal jika kita menjalaninya dengan penuh kesenangan dan rasa syukur. Karena pada dasarnya hidup ini telah terencana, dan kita mau tidak mau harus menjalaninya. Lagi pula atas kemauan kita sendirilah untuk dilahirkan kedunia ini.

 

Sama halnya dengan Sisyphus yang memohon untuk dikembalikan lagi ke dunia untuk bisa menikmati keindahan dunia sekalipun harus mngerjakan hal yang gitu-gitu aja alias monoton. Baginya tidak apa-apa asalkan tetap berada di dunia, ia rela mngerjakan hal tersebut dengan senang hati dan tertawa di setiap pekerjaannya.

 

Oleh karenaya meskipun kehidupan kita beberapa diantaranya harus dilakukan berulang-ulang setiap harinya, jangan pernah merasa sia-sia dan tidak menghasilkan apapun. Hidup ini selalu menyenangkan di setiap detiknya. Ada makna di setiap peristiwanya, dan rasa syukur tentu akan menjadi penopangnya.  Maka sayang bila kehidupan ini harus dilewatkan dengan cara mengeluh dan merasa tersiksa. Nikmati saja sampai kita benar benar tidak bisa menikmatinya lagi, karena harus menglami kematian. Namun setidaknya kita mati dengan tidak meninggalkan penyesalan sedikitpun.

 

Dan kabar baiknya lagi, sadarlah bahwa kita sebagai manusia diberikan anugrah yang begitu banyak dibandingkan dengan makhluk hidup lain yang ada di muka bumi ini. Jika makhluk yang lain hanya hidup untuk tumbuh, berkembang, melindungi sesamanya, melestarikan spesienya, kita sebagai manusia dianugrahi akal. Dengan akal kita bisa merasakan kebebasan. Kebebasan untuk memlih batu mana yang paling cocok untuk di dorong, kemudian  mencari jalur alternatif dan nyaman menuju atas bukit. Bahkan kita bebas memilih atas bukit mana yang hendak kita  letakan batu tersebut.

 

Meskipun hidup ini monoton, kita tetap bisa memaknainya dan memilih jalan yang paling nyaman dan menyenangkan. Semakin monoton kehidupan kita maka semakin kita mikir, dan semakin kita mikir maka eksistensi manusia kita semakin nyata.

 

Karenanya saya tekankan jangan pernah membenci hidup monoton, karena monoton adalah koentji.