MERAYAKAN TAHUN BARU DAPAT MENJADIKAN PENGANUT TIGA AGAMA DALAM SATU MALAM ?

tahun baru

Tanggal 31 desember menjadi tanggal yang di tunggu-tunggu oleh khalayak orang, tak terkecuali masyarakat indonesia. karena merupakan tanggal terakhir sekaligus sebagai tanda menjelang pergantian tahun lama menuju tahun baru.

Menariknya pergantian tahun selalu di barengi dengan tradisi tradisi yang unik diantaranya memainkan lonceng, meniup terompet, dan menyalakan kembang api.

Namun apakah ketika kita melakukan tiga tradisi di atas pada tahun baru dapat mengakibatkan jadi penganut tiga agama sekaligus? Hmm…

Berawal dari pesan berantai yang dikirim pada grup WA oleh salah seorang anggota grup. kira kira bunyinya seperti ini :

“BULAN DESEMBER DI TUNGGU OLEH JUTAAN MANUSIA PADA JAM 00:00 WIB PENUTUP AKHIR TAHUN. WASPADALAH !!!

DALAM SEMALAM MENJADI PENGANUT 3 AGAMA SEKALIGUS

DALAM SEMALAM MENJADI PENGANUT 3 AGAMA SEKALIGUS

Nasrani menggunakan lonceng untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah.

Yahudi menggunakan terompet untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah.

Majusi menggunakan api untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah

Dan pada jam 00.00 WIB malam tahun baru, sebagian umat islam menggunakan ketiganya dalam satu waktu.

Lonceng berbunyi,

Terompet berbunyi,

Kembang api dinyalakan.

Maka malam itu menjadi penganut tiga agama, Nasharani, Yahudi & Majusi “

Sontak saja pesan tersebut membuat saya kaget juga penasaran, terlebih lagi di masyarakat kita yang mayoritas islam sebagiannya ada saja yang melakukan ketiga tradisi tersebut ketika pergantian tahun baru.

Namun, apakah benar bila kita melakukan tiga tradisi tersebut kita termasuk penganut tiga agama yang di maksud?

Dengan spontan saya langsung tap aplikasi gambar bola dunia, kemudian saya tulis keyword “tatacara menjadi penganut umat nashrani, umat yahudi, dan umat majusi”

Alhasil yang saya temukan tidak sesederhana itu untuk menjadi penganut agama agama tersebut. Karena ada tata cara atau syarat tertentu untuk benar benar menjadi umat nashrani, yahudi, dan majusi. Tidak sesederhana hanya dengan membunyikan lonceng, meniup trompet dan menyalakan kembang api.

Lantas mengapa pesan tersebut beropini demikian?

Setelah gulir gulir bawah pesan wa tersebut ternyata opini tersebut merujuk pada hadist riwayat abu dawud yang berbunyi “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum mereka”

Hadist ini begitu populer menjelang perayaan natal dan tahun baru, namun saya tidak akan membahas status hadist tersebut apakah sohih, hasan atau doif karena masih ada perdebatan diantara para ulama.

Maka dari itu saya akan bahas pada konteksnya.

Menurut dutaislam.com pemahaman terhadap makna dan maksud hadis Tasyabbuh menyerupai suatu kaum perlu dipahami konteks sosial politik dan budaya pada zaman Nabi SAW dan lalu dihubungkan dengan konteks masa sekarang. Saya mengutip keterangan Prof. Nadirsyah Hosen bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW identitas keIslaman merupakan sesuatu yang sangat penting. Bagaimana Nabi membedakan antara muslim dan non muslim? Mereka sama-sama orang Arab yang punya tradisi yang sama, bahasa yang sama, bahkan juga pakaian yang sama. Bagi komunitas yang baru berkembang, loyalitas ditentukan oleh identitas pembeda.

Pernah suatu saat, ada orang kafir masuk Islam di pagi hari, dan kemudian ia bergabung bersama-sama dengan komunitas muslim dan ikut pertemuan membahas strategi dakwah. Ternyata sore harinya orang yang tadi masuk Islam, ia menyatakan murtad kembali ke agama lama. Tindakannya ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap loyalitas komunal. Maka dalam konteks inilah Nabi SAW bersabda:

“Barangsiapa murtad, maka hukum matilah” (HR. Bukhari dari Ali).

Nabi SAW menyikapi kasus seperti ini, maka Beliau mulai melakukan konsolidasi internal, yaitu perlunya loyalitas dibentengi dengan identitas tertentu. Nabi SAW melakukan politik identitas inilah yang kemudian Beliau melarang umat Islam menyerupai Yahudi, Nasrani, Musyrik, atau Majusi sebagai komunitas yang sangat berpengaruh dan menjadi ancaman stabilitas politik di Madinah. Pada situasi dan kondisi inilah lahir hadis-hadis perintah aturan pembeda identitas dengan komunitas Yahudi, Nasrani, Musyrik dan Majusi, misalnya kumis, jenggot, sepatu, sandal, dan pakaian lainnya. Hadis ‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia akan termasuk dari mereka’ muncul disabdakan Nabi SAW dalam konteks Beliau sedang membangun politik identitas sebagai bagian dari upaya membentengi loyalitas terhadap komunitas umat Islam saat itu di Madinah.

Lalu masih relevankah dengan keadaan saat ini?

Apakah pembeda identitas dan loyalitas KeIslaman kita saat ini masih sama dengan identitas komunitas Muslim pada zaman Nabi SAW 15 abad yang lalu? Oleh karena itu, memahami makna dan maksud hadis ini perlu mengerti latar belakang sosial politik, dan budaya serta illatnya atau motivasi dan tujuannya. Apabila situasi dan kondisi sosial politik dan budaya yang melatar belakangi bahkan illatnya sudah berubah dan berbeda dengan saat ini, maka pemahamannya juga berbeda.

Kesimpulannya?

Hemat saya,jika merujuk pada hadist tersebut maka harus di lihat konteksnya terlebih dahulu bagaimana keadaan sosial politik pada zaman Nabi Muhammad SAW seperti yang di jelaskan di atas.

Ditambah lagi keadaan sekarang bukan lagi keadaan peperangan secara kontak fisik. Semua umat beragama hidup saling berdampingan.

Rasanya agak samar jika membedakan agama hanya dari sisi identitas saja.

Begitupun orang orang yang memainkan lonceng, meniup terompet dan menyalakan kembang api tiba tiba di cap menyerupai dan bagian dari orang nashrani, yahudi dan majusikan? tidak masuk akal rasanya dan tidak etis juga karena masalah akidah seseorang hanya dirinya dan tuhan yang tahu.

Asik… tidak jadi termasuk penganut tiga agama dalam satu malam dong?

Hmmm Saya rasa tidak, disamping dasarnya agak keliru, juga ada kaidah yang mengatakan”suatu perbuatan itu berdasarkan tujuan dan niatnya” . Namun disamping itu ada juga kaidah “kemadharatan di hilangkan sebisa mungkin”

Silahkan simpulkan sendiri ya 😀

Namun namanya juga opini, semua orang bebas berpendapat asalkan punya data. Termasuk opini saya terhadap opini pesan berantai wa tersebut.