Nasib Puisi di Facebook: Antara Lebay dan Puitis

puisi bahasa lebay vs puitis

Di zaman modern ini, kita memang tidak bisa menafikan kehadiran media informasi. Oleh karena itu, rasanya mudah sekali untuk mencari informasi, salah satunya dalam media di internet. Bila kita ingin mencari informasi tentang sastra atau karya sastra (khususnya puisi), dengan mudahya kita bisa menemukannya dengan beberapa detik. Akan tetapi, dengan kemunculan media komunikasi jejaring social (facebook), tidak sedikit pula orang-orang menulis puisi karyanya sendiri di media tersebut.

 

Kemunculan karya sastra pun menjadi praktis. Seseorang tinggal mempublikasikanya walau hanya sekadar mengomentari lalu mengacungkan jempol. Dengan kata lain, tidaklah sulit bagi kita untuk bisa menikmati atau mengapresiasi puisi.

 

Disisi lain, Hadirnya facebook sebagai media maya dalam apresiasi karya sastra, namun hanya sedikit para pengguna facebook yang bisa memahaminya. Maksudnya banyak yang tidak memahami maksud atau makna puisi. Memang ini sudah sejak lama menjadi problematika diantara sastra media cetak (Koran, majalah, buletin). Dan menjadi ajang diskusi yang panjang semenjak kemunculan cybersastra beberapa tahun lalu.

 

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas panjang lebar tentang apa itu karya cybersastra. Tapi saya akan memberikan pandangan lain tentang karya sastra yang menjadi problematika pengguna jejaring social facebook itu sendiri. Dari mulai masyarakat awam yang tidak mengenal bahasa sastra, hingga mahasiswa sastra, namun tidak bisa membedakan antara bahasa lebay dan bahasa puitis.

 

Lebay atau hiperbola, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai ucapan atau kiasan yang dibesar-besarkan yang dimaksudkan untuk memperoleh efek tertentu. Lebay adalah bahasa gaul anak muda di Indonesia, Lebay yang berarti berlebihan. Penggunaan kata lebay ini sering diaplikasikan pada kalimat yang berhubungan dengan tutur kata. Lebay, sudah dikenal beberapa tahun terakhir ini.

 

Menarik untuk disimak, setiap hari saat kita mengakses facebook, mungkin akan selalu menemukan orang-orang yang lebay. Lalu apa ada hubungannya antara puisi dengan lebay? Memang dari segi kata-kata yang digunakan, puisi menggunakan bahasa yang tidak lazim dan sulit dipahami atau ditafsirkan. Meminjam pemahaman linguistiknya adalah konotatif, atau sering kali puisi yang baik yang menggunakan symbol (semiotik) dan majas (semantik). Tentu saja banyak yang menggunakan bahasa yang paradigmatic juga.

 

Akan tetapi, puisi mempunyai bahasanya sendiri yaitu bahasa puitis bukan bahasa lebay, diantaranya metaphor, metonim, anaphora, oksimoron, personifikasi, simile, dll. Saya ambil contoh, Metaphor yakni pengungkapan yang mengandung makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan makna yang lain dari makna sebenarnya, misalnya “cemara pun gugur daun” mengungkapkan makna “ketidak abadian kehidupan” atau “kau gadaikan jassadku pada tanah” mengungkapkan makna “kau menginginkan ku mati”. Berbeda dengan bahasa lebay cara pengungkapan maknanya secara langsung tetapi dilebih-lebihkan. Contohnya “aku ingin kau cepat mati karena telah menyakitiku”.

 

Kita ambil contoh lain dari bahasa lebay dan bahasa puitis.

Dari bahasa lebay “sayang, aku rindu padamu tapi aku tidak bisa hadir dikesendirianmu karena langit menangis (maksudnya hujan) berbeda yang di ungkapkan bahasa puitis “Aku ingin menjadi gerimis disela kesepianmu, mengetuk genting luka nan menduri, lalu disetiap rintik yang mengalun, aku menjelma nada dalam nadimu”  

 

Dari contoh bahasa lebay, secara otomatis pertama kali kita membaca kata tersebut, seseorang dapat langsung mengetahui maksudnya setelah membacanya, yakni seseorang yang rindu kepada seseorang. Tapi dari contoh bahasa puitis kita harus mencari makna dari bahasa konotatif tersebut untuk memahami maksudnya, karena bahasa puitis bahasa yang jarang digunakan dikehidupan sehari-hari.

 

Menurut Ralph Waldo Emerson, seorang penyair amerika classic “puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sedikit mungkin”. Jikalau kita bandingkan dengan lebay, lebay ialah berlebihan (hiperbola), secara sederhana puisi tidak menghambur-hamburkan kata sebaliknya bahasa lebay sesuatu yang melebihkan kata-kata.

 

Jikalau puisi itu memang lebay, maka puisi itu haram dan pastinya penyair pun berdosa tentunya, dengan merujuk pada Q.s Al A’raaf[7]:31 yang berbunyi “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan (lebay)”

WALLAHU ALAM