Pernikahan itu yang Penting Sah, bukan yang Penting Wah

pernikahan sederhana asal halal

Pernikahan merupakan momen sakral bagi dua insan yang telah meyakinkan hatinya masing-masing untuk saling melengkapi dan berbagi dalam indahnya mahligai rumah tangga.  Karena sakral, pernikahan diharapkan menjadi momen yang sekali seumur hidup bagi setiap insan yang memutuskan untuk menikah.

 

Tak jarang demi momen seumur hidup sekali, ada beberapa orang diantaranya yang menggelar pernikahan harus semegah, semewah dan se-wah mungkin. Namun sayangnya beberapa orang diantaranya harus memaksakan diri demi perayaan pernikahan tersebut. Tanpa memperhitungkan kehidupan setelah pernikahan yang benar benar penuh misteri. Oleh karenanya, perlu ngaca diri dan ngaji diri terlebih dahulu sebelum memutuskan menikah secara megah, mewah, dan wah.

 

Ngaca diri dalam artian harus memperhitungkan kemampuan finacialnya dalam memenuhi semua  biaya pernikahan wah ini. Mulai dari sewa gedung, nyari catering , fitting baju minimal tiga pasang yang udah kaya kostum sepak bola buat laga kandang dan tandang aja. Sampai-sampai harus bayar mahal demi sewa photographer yang kreatif dan gak segan buat ngatur ekspresi wajah dan benerin jambul kalau tiba tiba lepek demi sebuah foto pengantin yang ciamik. Dan satu hal yang tidak bisa dihindari yakni harus memberikan mahar yang berkarat-karat. Mengapa demikian? Ya malu dong masa nikah megah tapi maharnya “karatan”.

 

Terlepas dari kemegahan itu, yang paling utama di harapkan setiap pasangan adalah kelancaran dan keberkahan dalam pernikahannya. Dimana si calon mempelai laki laki mengucapkan ijab qobul hanya sekali dan satu tarikan nafas. Huhhh luar biasa lancarnya. Dan si perempuan dengan air matanya setelah merasa  lega seketika  mendengar kata sah dari para saksi kemudian diikuti doa-doa agar penuh keberkahan.

 

Namun meskipun ada beberapa pasangan yang ingin menikah secara sederhana dengan harapan kelancaran dan keberkahannya saja, kadang pernikahan yang megah, mewah dan wah datang juga dari tuntutan keluarganya.

 

Dengan alasan klise “perjuangan dan pengorbanan cinta”  Demi pasangan keluarga.  Pihak keluarga kadang ikut campur dalam perumusan pagelaran pernikahan, harus beginilah harus begitulah, pokoknya harus di buat semegah mungkin. Boro-boro bikinin proposal (kalo bisa) buat biaya resepsi atau menjadi penyokong dana, yang ada malah pesan harus ada makanan ini hiburan ini dan lain sebagainya. Semuanya demi apa? demi cinta kita kepada pasangan? Bukan. Semua demi kehormatan dan status sosial agar menjadi keluarga yang terpandang. Padahal menurut saya hanya keluarga yang tidak terpandang yang ingin di pandang oleh orang lain.

 

Dengan demikian, Secara tidak sadar, terbangun citra di masyarakat bahwa pernikahan itu identik dengan sesuatu yang harus megah dan biaya yang tidak sedikit alias mahal bos demi penilaian tamu undangan.  Kasihanlah kami-kami ini yang ingin menikah tapi belum punya modal buat bikin resepsi pernikahan yang wah sesuai dengan standar yang kalian tentukan.

 

Wahai kalian orang orang yang ingin terpandang, jangan sampai dengan standar pernikahan yang kalian tentukan membuat kami menunda-nunda pernikahan dengan alasan belum terkumpulnya modal buat resepsi. Dan juga jangan sampai memaksa kami-kami ini belajar berhutang di masa muda. Hanya demi resepsi yang sesaat tanpa memperhitungkan kehidupan kami yang panjang dan berkelok-kelok pasca resepsi pernikahan.

 

Untuk menghadapi kemungkinan terjadinya hal tersebut, tentunya kita harus rajin-rajin mengaji diri. Dalam artian mempertanyakan pada diri sendiri niat dan tujuan menikah.  Dan alangkah lebih baik lagi dengan mencari penguatan dari luar demi terciptanya tujuan pernikahan yang sesungguhnya. Bisa dengan konsultasi kepada ulama atau ustadz terlebih dahulu yang lebih mengerti tentang esensi pernikahan dalam Islam. Agar kita benar-benar mengerti untuk apa sebenarnya pernikahan itu sendiri.

 

Karena dalam Islam tujuan pernikahan ialah hanya untuk beribadah dan menjauhkan diri dari perbuatan zina.  Cukup terlaksana ketika sudah ada Calon pengantin lelaki, calon pengantin wanita, wali, dua orang saksi dan yang terakhir ijab qabul. Pernikahan akan sah dan kedua mempelai merasa lega karena statusnya menjadi suami dan isteri.

 

Bisa sajakan bila kita mempunyanyi argumen yang kuat dan benar-benar mampu meyakinkan  pihak keluarga kita maupun keluarga pasangan kita tentang tujuan pernikahan itu untuk apa. Tak menutup kemungkinan mereka paham dan mengerti hingga akhirnya mendukung meskipun sebelumnya  mempunyai konsep tersendiri yang jauh dari kemampuan kita.

 

Pada intinya penulis ingin sampaikan bahwa pernikahan itu tak melulu soal kemewahan. Dan tak harus ikut dalam standar yang telah orang lain tentukan bila tidak mampu. Termasuk oleh keluarga sendiri yang pada akhirnya mengurungkan niat kita untuk menikah dan beribadah.  Merdekalah dalam pernikahan. Dengan membuat konsep pernikahan yang kita inginkan, tanpa harus menambah-nambah beban kepada kita sendiri demi kepuasan dan penilaian orang lain.

 

Kendati mampu secara financial untuk menggelar resepsi pernikahan yang mewah, megah dan wah sekali pun, bukan kah lebih puas ketika kita merayakan resepsi pernikahan kita dengan konsep yang kita buat bersama pasangan kita. Dengan  membuat  konsep resepsi pernikahan sederhana dengan modal sehemat mungkin, dimana sisa modalnya di simpan untuk kebutuhan pasca pernikahan kita nanti yang banyak ketidakterdugaan.

 

Karenanya menikah itu yang penting sah, bukan yang penting wah.