Penjagal Mayat

sastra JAGAL MAYAT tanpa kepala

Mayat itu tanpa kepala. Terbaring kaku semacam pohon pualam yang ditebang seseorang. Entah siapa yang tega menggorok lehernya, lalu mengambil kepalanya entah kemana. Dari kerongkongannya mengucur darah. Kain kafannya menjadi merah. Seolah mayat itu belum lama digorok dari liang lahat. Padahal, baru pagi tadi jenazahnya dikebumikan dengan tubuh yang sempurna. Namun ketika malam tiba, seorang penggali kubur melihat tanah pekuburannya menjadi berantakan, seperti telah digali seseorang dengan sangat tergesa. Seantero pemakaman mendadak dibanjiri manusia. Mereka penasaran ingin melihat dengan mata kepala sendiri keadaan mayat itu. 

 

“Sungguh biadab!” rutuk Mbah Darto, kakek dari mayat itu yang bernama Tole. “Tole.. Tole.. Malang sekali nasibmu nak.” lanjutnya dengan jerit yang membelah langit.

 

Langit sedikit berkarat. Malam begitu dingin. Bulan purnama melotot manyaksikan kerumunan orang-orang di pemakaman. Mereka saling sikut, saling senggol, saling dorong memaksa menyeruak masuk kerumunan untuk melihat mayat itu. Berbeda dengan Mbah Darto yang tak tahan melihatnya (Ah, bagaimana bisa ia berlama-lama menyaksikan kondisi cucu kesayangannya yang mengenaskan: tubuh anak kecil tanpa kepala).

 

Dengan susah payah Mbah Darto pun keluar dari kerumunan. Sepertinya tak ada yang peduli dengan kesedihan yang menghujam batinnya. Semua orang hanya terfokus pada satu tanah pekuburan dengan rasa penasaran. Sedangkan Mbah Darto, megap-megap menahan amarah yang hendak tumpah, kemudian tertunduk sendirian merapatkan punggung pada pohon kenanga sambil meremas rambut yang telah beruban. Mungkin hanya itu yang bisa dilakukannya sebagai rasa kekesalan entah pada siapa. Mbah Darto tak tahu siapa gerangan bangsat yang tak punya hati mengambil kepala cucunya itu. Ia hanya menatap nanar pada lingkup kerumunan.

 

Tak lama setelah itu, Lik Muji―ayah dari mayat itu―menyusul muncul dari balik kerumunan. Dengan tatapan penuh amarah, sorot matanya mengobarkan tarian api yang membara, seakan menahan buncah, lalu menghampiri Mbah Darto dan memukulnya dengan tangan mengepal, menumpahkan dendam yang telah lama terpendam. Begitu geram. Tanpa rasa iba sedikitpun, ia memukul Mbah Darto hingga tubuh kurusnya tersungkur menggebrak tanah. Kepalanya tercatuk batu. Berdarah. Mbah Darto mengerang dengan airmata di kedua pipinya. Darah segar pun mengalir dari kepala melewati pipinya. Seolah terlihat sedang nangis darah.

 

“Mbah bawa kemana kepala Tole!” bentak Lik Muji.

 

“Untuk apa Mbah dengan kepala cucuku itu?” jawab Mbah Darto dengan suara parau.

 

“Sudahlah, jangan banyak alasan lagi, pasti Mbah jadikan tumbal ilmu santet kan!”

 

Mendengar ucapan yang menyalak dari anaknya itu, tersentaklah hati Mbah Darto, perasaannya langsung lumpuh seketika. Ia belum siap bila harus menerima lontaran yang begitu tajam. Tidak. Ia tak akan pernah siap. Tatapannya sayu mengisyaratkan betapa semakin perih hatinya. Seperti disayat silet. Silet yang kini terjepit di antara kedua bibir Lik Muji. Bagaimana tidak menyayat hati, bila anak sematawayangnya kini begitu membencinya. Semua menganggap Mbah Dartolah yang mengambil kepala Tole. Belum lagi ia dituduh telah menggantung dan mengikat kuat-kuat leher cucunya itu pada pohon mangga belakang rumah; pastilah dibunuh, mengingat sungguh tak mungkin bila anak kecil melakukan gantung diri.

 

Bukan masalah itu saja. Bukan masalah fitnah; dugaan-dugaan; kabar burung orang-orang yang tak pernah jelas asal muasalnya. Sebenarnya Mbah Darto tak pernah mempermasalahkan fitnah yang dituduhkan padanya. Tapi ia tak ingin anaknya menjadi beringas terhadap ayah kandung sendiri. Tak ada dalam sejarah bila orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi durhaka. Mbah Darto tak ingin hal itu menimpa Lik Muji.

 

Lik Muji, sifatnya mulai berubah ketika tiga bulan lalu Mak Rat meninggal dunia. Tak terelakan lagi perasaan kecewanya bila ternyata ibunya itu diduga mati gantung diri. Pada malam kematian Mak Rat orang-orang begitu gempar, tanah pekuburan Mak Rat mendadak rancak, seperti telah dibongkar entah oleh siapa. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ketika orang-orang memutuskan melakukan penggalian ulang tanah pekuburan Mak Rat untuk memastikan kondisi mayatnya, alangkah terkejut bukan main bila ternyata mayat itu sudah tidak ada kepalanya.

 

Semenjak kejadian itu, nama Mbah Darto pun menjadi buah bibir, selalu diperbincangkan orang-orang: entah itu ketika sedang berladang, atau sepulang dari menyadap getah karet, bahkan pada perbincangan di warung-warung kopi, di jalan-jalan, di rumah-rumah warga, seolah menjadi makanan terhangat setiap hari yang tak pernah bosan dilahap. Bila ada warga yang kebetulan berpapasan di jalan dengan warga lainnya, maka yang akan ditanyakan pasti berkisar perihal Mbah Darto.

 

“Sampeyan tahu Mak Rat? Sebetulnya bukan mati gantung diri, tapi dibunuh kemudian digantung seperti menjemur pakaian saja oleh suaminya, si Mbah Darto bajingan tua itu!”

 

“Jangan menyimpan perasangka, omongan Sampeyan itu masih belum terbukti juga kan?”

 

“Kerat julur lidah ini kalau saya hanya membual!”

 

Atau ada juga yang seperti ini, “Malam tadi kepala mayat Mak Rat hilang karena akan dijadikan tumbal ilmu santet Mbah Darto loh…”

 

“Kayaknya sih begitu. Tak disangka, dalam hati Mbah Darto bersemayam iblis. Kejam sekali orang itu, huh!” timpal yang lain.

 

Begitulah. Itulah alasan kenapa Lik Muji begitu membenci Mbah Darto, dan berujung pada ketidaksudian menganggap bahwa Mbah Darto ayah kandungnya sendiri, seiring dengan merambatnya dugaan-dugaan bahwa Mbah Darto manusia berhati iblis. Hingga bagaimana awal mula gelar itu bisa melekat pada namanya: dukun santet, penjagal mayat—pencuri kepala mayat keluarganya sendiri.

 

***

 

Ada paku bersarang di dalam tubuh Wak Akom. Pagi-pagi sekali, ia menjerit meringis kesakitan, menyambat apa saja sambil menyisipkan nama Mbah Darto. Ia bilang, sepertinya ada sebuah benda tajam yang menggores-gores di dalam lambung, lalu merewet pada ulu hati serasa diremas keras-keras. Pasti ini semua biang keladinya Mbah Darto, sebab kemarin malam Wak Akom sangat berantusias mengajak warga lain untuk mengusir Mbah Darto dari kampung, ketika sedang berkumpul di warung kopi dengan menghabiskan bergelas-gelas kopi hitam. Ah, mungkin saja rasa sakit itu akibat kelebihan minum kopi, Wak?

 

Sebulan yang lalu, selepas beribadah dari surau, Parimin selalu menyempatkan diri meludahi pekarangan rumah Mbah Darto. Tak elok bila pekarangan rumah dukun santet ditumbuhi bunga-bunga, hanya air liur atau dahak yang pantas untuk menyiram bunga itu karena akan menyebar bau jadah! Dukun santet itu hanya akan mengundang aib bagi seluruh warga kampung, kata Parimin melengos pergi. Namun setibanya Parimin di rumah dan hendak membuka palang pintu, entah penyakit dadakan apa, tiba-tiba saja ia muntah darah.

 

Halimah, bunga desa di kampung itu suatu kali pernah digoda oleh Mbah Darto. Setiap ia berjalan sendirian di pagi hari hendak membeli seikat sayuran, gadis cantik itu selalu dikerlingi mata Mbah Darto yang penuh hasrat. Tak tahan atas perlakuan itu, Mbok Simah mendatangi rumah Mbah Darto dengan membawa seikat umpatan, “Najis! dasar duda tua, belum lama ditinggal mati Mak Rat, sekarang sudah mau mengawini gadis perawan ting-ting. Jangan harap anak gadisku sudi dipersunting dan melahirkan keturunan dari seorang dukun santet!” bentak Mbok Simah. Selang beberapa hari setelah kejadian itu, perut bunga desa itu pun semakin lama semakin membuncit dan terkesan akan meletus.

 

Kemudian dari cerita yang lain, suatu waktu Mbah Darto pernah beradu mulut dengan para rentenir, ketika itu Mbah Darto dipaksa menyerahkan rumah beserta seluruh isinya karena terjerat utang-piutang. Selain harus melunasi utang-utangnya, ia juga harus membayar beserta bunga yang telah menumpuk. Dulu perjanjiannya, bila dalam waktu tiga bulan utang-utangnya tak segera dilunasi, maka rumahnya akan disita sebagai barang tebusan.

 

Sudah dari dulu mereka bolak-balik menagih dan mendatangi rumah Mbah Darto. Tapi tetap tak dilunasi juga. Bukan keinginan Mbah Darto bila harus meminjam uang pada lintah darat, tapi keadaan yang mendesaknya, sebab ia hanya hidup sendiri dengan menghabiskan masa tua tanpa sebuah penghasilan. Bukankah ia sudah dibenci seluruh warga bahkan oleh anaknya sendiri sekalipun? Siapa lagi yang akan memberinya sesuap nasi selain melalui caranya sendiri, meskipun ia tahu keputusannya ini tidaklah tepat.

 

Tanpa rasa takut sedikit pun, Mbah Darto berani melawan para rentenir yang bertubuh kekar itu. Akhirnya mereka lari tunggang langgang ketakutan melawan Mbah Darto, sebab diancam akan membunuh mereka dengan ritual samber nyawa; membaca mantra-mantra menggunakan tumbal darah ayam hitam.

 

Semua warga tak ada yang berani lagi mengusik ketenangan Mbah Darto. Nyali mereka ciut takut-takut terkena guna-guna. Oh, bukan itu yang Mbah Darto harapkan, bukan pengucilan, bukan pengasingan, hanya kesepian yang akan ia dapatkan. Terkecuali bila ia sedang mengasuh Tole cucunya itu. Hanya anak kecil itu yang selalu menemani kesehariannya. Sedangkan Lik Muji, sudah barang tentu tak mau berucap sepatah kata pun pada Mbah Darto meskipun berada dalam naungan atap yang sama. Bahkan urusan makan sekalipun. Seolah meja makan terpisah menjadi dua bagian.

 

Ahoi, pamali itu… Bukannya membalas dengan madu setelah dulu dihidangkan susu, malah tuba yang ditumpahkan pada ayahnya. Tapi siapa yang bisa menyembuhkan penyakit hati Lik Muji yang kelewat sakit. Tatkala Lik Muji hendak mengambil air timba di belakang rumah, alangkah terkejut bagaikan disambar petir siang bolong, dengan mata kepala sendiri ia melihat sosok tubuh anak kecil yang tergantung di pohon. Tole… Lidahnya biru terjulur.

 

***

 

Suasana rumah Mbah Darto masih berkabung. Fajar menyingsing. Matahari mengintip di pucuk gunung. Tanpa mempertimbangkan waktu yang tepat atau tidak, lintah darat itu kembali menagih setumpuk utang Mbah Darto. Saat itu Lik Muji masih berada di pemakaman—menangisi; menjaga tanah pekuburan anaknya dari semalam. Hanya para tetangga yang selintas menyaksikan kembali adu mulut Mbah Darto dan para rentenir. Hingga semuanya selesai ketika para rentenir itu masuk ke dalam rumah Mbah Darto dan keluar lagi sambil mengulum senyum sinis. Rumah Mbah Darto kembali sunyi.

 

Pintu rumah itu masih terbuka. Hingga menjelang tengah hari, Lik Muji pulang dan berniat akan membunuh ayahnya saat itu juga. Ia ingin mengakhiri silsilah keluarganya yang mati kehilangan kepala. Tapi ia kembali dikejutkan, saat setibanya di rumah, Mbah Darto sudah tak bernyawa. Mayatnya pun tanpa kepala.