Tertimpa Musibah dan Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un

musibah dan innalillahi

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji`ūn menjadi lafadz yang khas bagi seseorang ketika mereka mendo’akan yang meninggal. Singkatnya, ketika seseorang meninggal, kalimat itulah yang dibaca. Benarkah demikian? Memang benar, tetapi bukan hanya untuk mendo’akan kematian saja, akan tetapi lebih tepatnya ketika kita tertimpa oleh musibah.

 

Musibah memang tidak lepas dari Indonesia, di awal tahun ada banjir di kota-kota dan masih banyak lainnya. Hal inilah yang kiranya penting bagi kita untuk memahami konsepnya, khususnya bagi umat Islam. Musibah yang dapat dipahami dengan benar sesuai dengan pedoman umat Islam.

 

Petunjuk dan keterangan yang terkait dengan ini di dalam al-Quran sendiri diulang sebanyak sepuluh kali, ditambah dengan redaksi lain yang mengindikasikan makna yang mirip, yakni kata balā’, yang terulang sebanyak enam kali dan kata fitnah yang terulang sebanyak tiga puluh empat kali. Kata musibah seringali dikaitkan dengan fitnah, yang sialnya sekarang sudah mulai terlihat seperti Islamphobia dan isu teroris.

 

Pendapat-pendapat para mufassir dalam menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan konsep musibah dalam al-Qur’an juga harus dipertimbangkan supaya kita tidak salah dalam memahami ayat-ayat tersebut. Dan juga pendapat-pendapat lain yang berkembang berkenaan.

 

Berdasarkan sumber dan informasi yang didapat maka diperoleh sebuah kesimpulan bahwa musibah mempunyai lima kriteria, yakni:

  1. Bentuk sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi kadarnya masih dalam batas kemampuan manusia. Sesuatu yang tidak menyenangkan disini tidak seperti yang kalian maksud, seperti tidak sholat karena sholat tidak menyenangkan, atau malas bekerja karena tidak menyenangkan dan sebagainya. Sesuatu yang tidak menyenangkan disini lebih kearah fisik dan psikis, ketika ikhtiar ataupun menjalankan kehidupan, maka hal ini biasa terjadi.
  2. Hakekat sumbernya berasal dari Allah. Ketika kita beriman kepada Allah dan mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan maka itu adalah musibah, lain halnya ketika kita tidak beriman.
  3. Sasarannya orang-oarang yang beriman.
  4. Tujuannya menjadi ujian atau peringatan bagi yang ditimpanya.
  5. Kejadiannya hanya di dunia.

 

Dengan demikian musibah dapat disimpulkan sebagai suatu kejadian yang tidak menyenangkan tetapi kadarnya ada dalam batas kemampuan manusia, yang Allah timpakan kepada orang-orang yang beriman dengan tujuan untuk menguji keimanan atau mengingatkan mereka supaya kembali ke jalan yang benar dan terjadi hanya di dunia. Yang berarti juga bahwa balā’ dan fitnah termasuk musibah jika memenuhi kriteria tersebut. Balā’ atau ujian yang tidak menyenangkan adalah musibah. Fitnah yang terjadi di dunia dan menimpa orang-orang yang beriman juga bagian dari musibah.

 

Adapun cara yang terbaik dalam merespon musibah adalah dengan kesabaran, yakni dengan berucap lafazd istirja ” Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji`ūn “. Karena dengan mengucap kalimat tersebut akan menambah keimanan bagi mereka yang tertimpanya. Mereka akan bertambah tegar dalam menghadapi segala sesuatu yang menimpa dirinya karena meyakini bahwa apa yang terjadi dan menimpa dirinya itu bersumber dari Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana yang tidak mungkin mencelakakan hamba-Nya. Mereka juga yakin bahwa bersabar dalam menghadapi musibah akan mendapatkan jaminan dari-Nya berupa petunjuk serta rahmat-Nya. Dan yang lebih menarik lagi bahwa Allah swt. akan menggantikan musibah dengan nikmat yang tidak terhingga dan tidak dapat dihitung dengan angka.

 

Sumber: Jāmi’ al-Bayān ‘an ta’wīl āyi al-Qur’ān, karya Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khālid al-Thabarī Abū Ja’far