MIRNA

wanita tangguh itu bernama mirna

Detik demi detik berlalu, Mirna masih saja duduk terpaku di depan ibunya yang jatuh sakit dan kini harus berbaring di ruangan aster sebuah rumah sakit. Tatapannya kosong dan di dapati kaca-kaca air mata yang  sesekali menetes. Tak hanya sedih melihat ibu tercinta terbaring sakit, Mirna belakangan ini seperti mengalami dilema besar. Sesekali  ia menyalahkan dirinya atas sakitnya ibundanya.

Mirna anak bungsu sekaligus anak gadis satu satunya dari tiga bersaudara, merantau mencari secercah rezeki untuk hidupnya dan menghidupi orang tuanya karena kedua saudara laki-lakinya sudah pisah rumah. Tiga tahun sudah Mirna mengabdi di salahsatu yayasan sekolah luar biasa. Tak cukup dengan pendapatan di sekolah itu, Mirna menyempatkan dirinya untuk mengambil jam tambahan di luar sekolah, luar biasanya wanita ini pagi ia mengajar, sorenya ia berkeliling komplek perumahan untuk kembali mengajar.

Raut muka cantik yang lusuh karena bekerja dari pagi sampai senja, di tambah dengan serbuk- serbuk debu yang di hembuskan angin saat berkendara, menunjukan bahwa Mirna benar benar harus dan terpaksa melakukan pekerjaan di luar jam sekolah, mengingat kini dirinya menjadi harapan keluarganya, terutama ibundanya. Seakan akan keadaan telah menjadikannya sesosok wanita karir yang tangguh.

Meskipun sibuk, yang namanya wanita tak pernah lupa caranya untuk bersolek dan menjadi pusat perhatian para lelaki, begitupun yang dilakukan Mirna. Hampir setiap lelaki yang berjumpa denganya sudah pasti di jamin naksir, meskipun pada akhirnya hanya sekedar mengagumi.  Bukan karena Mirna orang yang judes dan berhati tega, namun Mirna telah mempunyai hubungan dengan seseorang yang telah lima tahun ia jalani.

Begitulah Mirna tak sombong dengan rupa cantiknya ia tunjukan dengan kesetian pada lelakinya.  Mirna tak pernah jalang dan begitu menghargai sebuah hubungan.  Namun akhir akhir ini ia sering mendengar bahwa lelaki yang selalu ia setiakan berhidung belang, sering kepergok jalan malam dan sekali kali menetap di sebuah tempat karaoke hiburan malam. Menurut saksi mata yang berusaha meyakinkan Mirna.

Namun Mirna adalah Mirna, selain pekerja keras, pandai bersolek, tentu juga setia, pun demikian dia punya pendirian teguh dan tak mudah percaya pada kabar yang hanya bisa di dengar tanpa di saksikan. Tuhan pun begitu menyayangi Mirna, saking sayangnya pada Mirna, Tuhan tiba tiba menampakan kekuasaannya.

*

Seperti kebetulan, karena jarang sekali Mirna pulang ke rumah ibunda dan menyampatkan singgah di salah satu pusat perbelanjaan. Ia berniat membeli oleh-oleh untuk Ibunya yang menanti di rumah.

Langkah kakinya segera ia tarik dan mundur kembali karena tiba-tiba sebuah mobil melintas di hadapannya. orang bilang sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai lama kelamaan akan ketauan juga. Dan atas kasih sayang Tuhan di tampakanlah lelakinya dengan seorang perempuan berambut pirang dalam mobil yang melintas depan matanya tanpa ada halangan dari kaca jendela. Karena bagian dari rencana Tuhan, hebatnya lelakinya tak menyadari keberadaan Mirna, mungkin karena sedang asik mengobrol atau memanjakan rambut pirang wanita itu.

Wajah cantik dan ceria tiba tiba menjadi muram,  Mirna terdiam seperti sedang berbicara pada diri sendiri seakan-akan perkataan teman temannya muncul kembali dalam pikirnya yang kini telah menjadi kenyataan. Tak lama kesadarannya pulih dan tergesa gesa mengikuti mobil lelakinya menuju parkiran. Bukan karena ingin melabrak seperti dalam adegan adegan serial televisi, Mirna hanya ingin memastikannya sekali lagi agar tak ragu mengambil keputusan kedepannya.

 

Dan benar kenyataanya, itulah Ehsan lelakinya yang terlihat dari kejauhan sedang bersama dengan wanita lain dengan bergandengan mesra. Mirna tak merasa sedih ataupun dendam, dan benar benar tanpa bertele-tele  Mirna kemudian mengirim chat pada lelakinya dan memutus hubungannya.

 

Kini tak terasa airmatanya mengalir di pipinya yang lembut, bukan karena menangisi lelaki yang tidak pantas ia tangisi, hanya saja Mirna kecewa dengan dirinya yang begitu percaya pada lelaki hidung belang itu.

Hingga akhirnya..  Merasa dirinya sedang berantakan, Mirna segera bergegas pulang menuju rumah untuk menceritakan kepahitannya hari ini pada ibundanya tersayang, meskipun tanpa oleh-oleh untuk ibundanya.

 

Sesampainya di rumah berharap pelukan hangat ibunda terkasih, namun kepahitanlah yang pertama kali mirna rasakan. Terlihat Ibundanya sedang tergeletak di lantai dengan menggenggam sebuah ponsel di tangannya yang meyala karena ada panggilan masuk yang masih terhubung. Dan kontak panggilan masuk itu bernama Ehsan.

 

bersambung……